Ichsan99 Wordpress

very good, Wordpress

Hukum Pymaligon – Hukum berpikir positif

Pygmalion  adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam  memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya  itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan  tetangganya.
 
Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran  positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang  baik.
 
- Apabila lapangan di tengah kotabecek, orang-orang  mengomel. 
Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain  tidak sebecek ini.”
 
- Ketika ada seorang pembeli patung ngotot  menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang  itu.” 
Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan  uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.
 
- Ketika anak -anak  mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba,  ”Kasihan,anak- anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di  rumahnya.”
 
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu  keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah  berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal  baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
 
Pada suatu hari Pygmalion  mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran  manusia sungguhan.  Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia  betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.  
Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah, sebagus- bagusnya patung, itu cuma  patung, bukan isterimu.”
 
Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu  sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para  dewa yang ada di Gunung Olympusmemperhatikan  dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah  kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betulan.  
 
Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang  konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
 
Nama  Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang  positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang,  seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.
 
Misalnya:
*  Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi  ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang  cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa  upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh  keberhasilan.
 
Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak  Pygmalion.
Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling  prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.
 
Kalau  kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia,  maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
 
* Kalau kita  mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi  tidak jujur.
* Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal  suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan  gagal.
 
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap  hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar  dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan  berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus  yang jelek tentang orang lain.. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang  lain.
 
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja  bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi  hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita  berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba  membujuk,”atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari  pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.  Kita menjadi mudah  curiga.  Kita menjadi tidak bahagia.
 
Sebaliknya, kalau kita  berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur,  ”Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada  kita.”
 
Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita  pakai.
 
* Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan  tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca  mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka  atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca  mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.
 
Hidup akan  menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang  diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain.  Berpikir baik tentang  keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.
Dampak berpikir baik seperti itu akan  kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa  dipercaya. Tetangga menjadi akrab.. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia  menjadi ramah.
 
Hidup menjadi indah.

27 Juni 2008 - Posted by | Pengetahuan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.